Hujan di atas Awan #13

Diposting oleh Shin Ra In pada 18:05, 13-Agu-16

hujan-di-atas-awan.jpg



Hujan di atas Awan


Bab XIII



"Aku tidak mau dengar apa pun yang keluar dari mulutmu. Aku tidak mau dengar!" Hujan menutup rapat telinganya menggunakan tangan.

Kesal karena Hujan terus menolak apa yang ingin ia jelasan, Awan yang telah kehabisan akal pun akhirnya mendaratkan ciumannya di bibir Hujan.

Hujan yang menolak untuk dicium, berusaha mendorong tubuh Awan agar ciuman itu terlepas. Namun Awan justru menahan kedua tangan Hujan dan mencengkeramnya erat. Bukannya melepaskan pagutannya, Awan justru semakin brutal saja mencium dan mengisap bibir Hujan yang mulai terasa memanas. Saat ini Hujan benar-benar tidak bisa melakukan perlawanan, karena Awan menahan bibir Hujan agar tidak lepas dengan cara menggigit bibir bawah gadis itu kuat.

Ciuman panas itu baru Awan sudahi setelah ia merasakan ada rasa asin yang menyeruak dari bibir Hujan yang ia isap.

"Maaf." Awan bergerak mundur setelah melihat luka di bibir Hujan yang mengeluarkan darah. Itu ulah Awan yang terlalu kuat menggigit bibir bawah Hujan yang mencoba untuk memberi perlawanan.

Mendengar kata maaf dari Awan yang tampak menyesali perbuatannya, Hujan bergeming. Masih dengan sorot kebencian yang mengendap dalam bola matanya yang nanar, Hujan mencoba mengatur napasnya yang masih memburu karena ciuman ganas Awan tadi.

"Kenapa kau melakukan ini padaku?"

Awan tak menjawab. Ia masih menundukkan kepalanya dalam, menyadari kesalahan yang baru ia perbuat.

"Apa kau pikir dengan menciumku semua masalah akan terselesaian? Apa kau pikir aku akan luluh setelah kau cium?! Apa aku serendah itu di matamu?"

Awan mengangkat wajahnya, ia menggelengkan kepalanya sekali menyangkal tuduhan keji yang Hujan layangkan padanya dengan kedua lutut Awan yang kembali berayun mendekati Hujan.

"Jangan mendekat!" Hujan bergeser mundur, menolak untuk didekati lagi oleh Awan. Gadis itu mulai menggerakkan matanya ke sana-kemari, seolah ia sedang mencari sesuatu. Ketika sebuah benda menjadi titik fokusnya berada di dapur, Hujan pun lekas berjalan cepat menuju ruangan itu. Dan kembali ke hadapan Awan setelah ia menodongkan sebuah pisau padanya.

"Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau berbohong sampai sejauh ini?! Apakah mempermainkanku adalah salah satu caramu untuk membalas dendam pada Kak Bara? Apa kau sengaja mendekatiku hanya untuk membuat Kak Bara bersujud di kakimu? Apa kau sengaja menyumbangkan satu ginjalmu hanya agar topengmu tidak ketahuan olehku? Jawab, Wan! Jangan diam saja!"

Tetes demi tetes air mata jatuh membasahi pipi Hujan yang malah menyodorkan pisau itu untuk Awan genggam. "Ambil, ambillah pisau ini dan gunakan untuk mengambil ginjalmu dalam tubuhku. Aku tidak sudi memiliki ginjal seorang penjahat sepertimu. Dan aku tidak ingin berhutang nyawa pada pria sepertimu!" Hujan mendorong keras bahu Awan hingga punggung pemuda itu membentur dinding di belakangnya.

Untuk yang kesekian kalinya Hujan mendesak Awan supaya mau mengambil ginjalnya dalam tubuh Hujan. Namun karena Awan tak bersedia melakukannya, Hujan yang sudah kehilangan akal sehatnya pun tiba-tiba saja membuka seluruh kancing seragam sekolahnya, lalu mengangkat ujung tank top yang ia kenakan sedikit demi sedikit. "Baik, jika kau tidak mau melakukannya... biar aku sendiri yang mengambilkannya untukmu." Hujan mengarahkan ujung pisau yang runcing itu pada kulit perutnya yang terdapat bekas jahitan operasi kemarin. Ada sedikit keraguan pada diri Hujan kala pisau tajam itu mulai bergetar saat menyentuh permukaan perutnya. Hujan tahu, mungkin setelah ini ia tidak akan bisa lagi membuka matanya. Akan tetapi, bukankah itu jauh lebih baik ketimbang harus hidup dengan ginjal dari orang yang sudah membunuh kakaknya sendiri?

Menyaksikan Hujan sanggup berbuat nekat dengan menyayat perutnya sendiri, dengan gerakan cepat Awan langsung merebut dan membuang pisau itu ke lantai.

"Cukup. Hentikan kegilaanmu, Hu! Apa kau sebegitu inginnya mati?"

"Ya! Mati jauh lebih baik daripada harus hidup dengan lelaki pembohong sepertimu! Tidak bisakah kau mengakuinya? Katakanklah dengan jujur bahwa kau memang sengaja membuat aku dan keluargaku menderita!"

"Jika itu yang kau yakini tentang diriku, maka anggap saja begitu. Ya, aku memang pria yang jahat. Dan aku ingin membalaskan dendamku pada Bara dengan menyakiti keluarganya. Apa kau puas sekarang?!"

Hujan tertohok, tak menyangka bahwa Awan akan semudah itu mengakui dosanya. Meski dari awal Hujan sendiri yang menuntut Awan untuk mengakui kesalahannya, tapi entah kenapa dadanya justru mendadak terasa sangat sakit ketika mendengar kalimat itu keluar dari bibir Awan.

"Bunuh saja aku, Wan! Aku tidak ingin hidup lagi!!" Hujan kembali meracau, memukul-mukul dada Awan dengan begitu keras. Awan yang mulai lelah dengan luapan amarah Hujan, lantas mengangkat tubuh Hujan di bahunya.

"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku! Turunkan aku!" Dalam gendongan Awan, Hujan meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Sayangnya Awan tak menggubris teriakan gadis itu, ia terus melanjutkan langkahnya masuk ke dalam sebuah kamar.

Tempat tidur yang rupanya Awan sembunyikan di dalam sebuah laci besar yang berada di urutan paling bawah dari lemari pakaiannya, ditarik keluar menggunakan satu kakinya. Setelah itu, Awan membanting tubuh Hujan yang ia gendong ke atas kasur empuk itu.

"Kau ingin mati? Baik, aku akan mewujudkan keinginanmu. Aku akan membunuh masa depanmu." Awan melepas kaus pendek yang melekat di tubuhnya, melemparnya asal kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas Hujan yang kini memasang mimik muka penuh ketakutan.

Tubuh Hujan menegang saat tangan Awan tiba-tiba saja merayap di pinggangnya, menyingkap ujung tank top yang Hujan kenakan sedikit demi sedikit. "Jika kau mati setelah kubunuh dengan pisau, maka kematianmu tidak akan begitu menyenangkan untuk kutonton. Aku ingin membunuhmu dengan cara lain, contohnya seperti ini." Awan membenamkan wajahnya di perut Hujan, menghirup dalam aroma melon yang keluar dari tubuh Hujan. Gadis yang kedua tangannya dikunci oleh genggaman tangan Awan hanya dapat merintih antara sakit dan geli saat lidah Awan menyapu bekas sayatan pisau yang sempat Hujan buat di perutnya tadi. Tak cukup sampai di situ, dengan gerakan naik Awan menciumi tiap jengkal perut langsing Hujan yang kembang kempis menerima rangsangannya.

Mendengar Hujan mati-matian menahan desahannya, Awan beralih mendaratkan ciumannya di telinga Hujan. "Kau ingin aku mengambil ginjalku kembali 'kan? Tapi sayangnya aku tidak mau. Aku tidak membutuhkan ginjal itu, yang sekarang aku butuhkan adalah sesuatu yang sangat berharga dalam dirimu, dan aku ingin merenggutnya darimu sekarang. Tentu kau tidak akan menolaknya bukan? Karena harga ginjalku memang sepadan dengan keperawananmu, Hu."

Hujan memejamkan matanya kuat, tak sanggup melihat pria di atasnya mulai kembali melanjutkan kegiatannya, menjilati telinga Hujan lalu bergerak turun dan berhenti di leher jenjangnya. Kedua telapak tangan Hujan meremas kuat sprei di bawahnya kala bibir Awan mengisap kulit lehernya sangat kuat.

"Kumohon... tolong hentikan."

Kalimat yang terucap di sela isakan Hujan, berhasil menghentikan aktivitas Awan yang hendak membuat tanda kepemilikannya di bagian lain tubuh Hujan. Melihat wajah gadis di bawahnya sudah sembab, perlahan Awan melepaskan cengkeraman yang semula memenjarakan tangan Hujan. Awan yang hampir saja kehilangan kendali, memilih untuk duduk di sisi ranjang dengan satu tangannya yang ia gunakan untuk memijat keningnya.

Hujan yang kini telah bebas dari jeratan pria yang hampir saja memperkosanya itu, segera menutup tubuh bagian atasnya yang sudah setengah telanjang itu dengan selimut yang ada di sana. Hujan yang masih syok dengan apa yang baru saja Awan lakukan padanya, bergeser menjauh dari Awan. Gadis yang masih duduk di bangku SMA itu benar-benar tak menyangka Awan bisa bersikap sekasar itu padanya. Padahal dulu, Awan pernah melakukannya dengan sangat lembut.

Sekelebat ingatannya tentang cara berpacaran mahasiswa yang tak sengaja Hujan dengarkan dari teman sekolahnya, kembali terngiang-ngiang di benaknya.

Apa mungkin Awan berniat menghamilinya? Seperti apa yang dulu Bara lakukan pada Bunga?

BRUKK

Sebuah hoodie yang jatuh di atas kepala Hujan, berhasil membuyarkan lamunan gadis yang tengah menangis dalam diam tersebut.

"Pakailah itu. Dan pergilah dari tempat ini. Mulai dari sekarang, jangan mencariku, meneleponku apalagi berusaha menemuiku. Karena hubungan kita telah berakhir. Hapus kontakku di ponselmu dan hapus juga semua ingatanmu tentangku, anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Seperti katamu, aku hanyalah makhluk asing yang tak berarti apa pun di hatimu."


©Rainsy™


Penjelasan seorang guru mandarin yang tengah disimak dengan baik oleh sebagian besar murid di kelas tempatnya mengajar, gagal Tomi dan Ririn pahami. Karena dua sejoli itu tengah dilanda kekhawatiran akan sikap Hujan yang terlihat kurang baik. Gadis itu tak biasa-biasanya memakai syal ke sekolah, terlebih lagi hari ini cuaca sangat panas. Bulir-bulir peluh yang mulai bermunculan di dahi Hujan menandakan bahwa syal itu membuatnya kegerahan, tapi Hujan enggan melepaskan kain yang melingkar di lehernya.

Suara lonceng yang menandakan waktu istirahat telah tiba, menjadi angin segar bagi Tomi dan Ririn yang langsung menempatkan diri mereka untuk duduk di dekat Hujan yang masih diam membeku menatap kosong ke arah papan tulis.

Setelah memastikan semua teman-teman di kelasnya telah keluar semua untuk membeli jajanan di kantin, barulah Tomi dan Ririn mulai mengintrogasi sahabat mereka itu.

"Hu, apa yang terjadi? Ceritakanlah semua masalah yang membuatmu jadi semurung ini." Mendengar Ririn berbicara seperti itu, Hujan yang masih sulit untuk melupakan kejadian kemarin pun menunjukan reaksi lewat kornea matanya yang mulai berair.

"Hu, ayo ceritalah. Kita ini sahabat, kita bisa menjaga rahasia jika kau merasa masalahmu ini terlalu pribadi." Ririn yang mengatakan itu seraya membersihkan peluh di wajah Hujan menggunakan tisu menghentikan pergerakan tangannya, ketika netra Ririn menemukan sebuah luka di bibir Hujan. "Hu, ini... kau kenapa?" Ririn hendak menyentuh luka dengan darah yang sudah mengering di bibir Hujan namun tangan itu sudah lebih dulu Hujan tangkap. Hujan menolak untuk disentuh.

Belum juga rasa penasaran mereka akan luka di bibir Hujan terjawab, Ririn dan Tomi sudah kembali dibuat syok oleh Hujan yang tanpa diminta melepaskan syal dari lehernya. Ada sebuah tanda merah kehitaman di leher Hujan yang membuat Tomi mengepalkan tangannya kuat. "Apa kau? Haissh... siapa yang melakukan ini padamu, Hu?!"

Hujan masih membungkam mulutnya, namun mata gadis berparas manis itu terus memberi tahu bahwa ia sangat terpukul dengan luka di bibir dan kissmark di lehernya. Ririn mengusap lembut tangan kiri Hujan lalu digenggamnya erat, seolah dengan cara itu Ririn ingin memberikan Hujan kekuatan untuk mengatakan siapa yang melakukan pelecehan terhadapnya.

"A-Awan... dia hampir memperkosaku, Rin!" aku Hujan sedetik sebelum tangisnya pecah dalam pelukan Ririn.

BRAKK!!

Tomi yang sudah menduga bahwa semua itu adalah perbuatan Awan, menggebrak meja di depannya karena kesal. Dengan emosi yang memuncak, Tomi menanyakan keberadaan Awan pada Hujan. Karena Tomi berniat akan memberi perhitungan pada pria brengsek itu.

"Percuma! Kau tidak akan bisa menemukan dia, Awan... sudah pergi."

"Apa? Bagaimana kau bisa tahu kalau dia sudah pergi dari sini, Hu?!" Tomi meraih kedua bahu Hujan agar gadis itu mau menatap matanya. Meski sudah dilecehkan oleh pria itu, namun Tomi masih dapat menemukan cinta di balik kabut luka di mata Hujan untuk Awan. Hujan yang semula enggan menceritakan alasan kenapa Awan sampai melakukan itu, akhirnya membuka suara setelah dibujuk dengan lembut oleh Ririn. Dengan sesekali menitikkan air matanya, Hujan menceritakan semua yang dialaminya kemarin pada Tomi dan Ririn.

"Sejak semalam... aku sudah berusaha menghubunginya berkali-kali, tapi nomornya tidak aktif. Dan sebelum berangkat ke sekolah, aku sempat mendatangi tempat tinggalnya, tapi rumahnya dikunci. Tidak ada seorang pun di sana." Hujan kembali menangis, bukannya merasa iba atas apa yang menimpa teman dekatnya itu, Tomi justru memarahi Hujan yang tidak pernah bisa mengubah perasaan cintanya jadi benci untuk Awan.

"Apa yang bisa kau harapkan pada pria brengsek sepertinya? Apa kau ingin dia kembali untuk menyakitimu lagi? Biarkan saja dia pergi! Apa ruginya untukmu? Jika kau menginginkan seorang pacar, aku bisa mencarikan pria yang jauh lebih baik dibanding Awan. Harusnya kau bersyukur bisa terbebas dari jeratan alien itu, Hu."

"Masalahnya bukan itu, Tom. Hatiku merasa, Awan benar-benar bukan orang yang membunuh Kak Luci. Dan dia tidak berniat jahat padaku. Alasan kenapa dia melakukan ini, hanyalah karena saat itu ia kesulitan menenangkanku. Waktu itu aku terlalu emosi dan mendesaknya untuk mengakui dosa yang kemungkinan besar tidak pernah Awan lakukan. Padahal, saat itu aku bisa melihat dengan jelas kejujuran di matanya. Tapi yang kulakukan kemarin, aku justru...." Hujan mengerjapkan matanya perih, tak sanggup rasanya ia untuk meneruskan ucapannya. Kenapa Hujan begitu ceroboh menuduh malaikat seperti Awan sebagai seorang iblis. "Aku menyesal."

"Jadi, maksudmu... Pak Dirga yang berbohong?" celetuk Ririn membuat Hujan terhenyak.

"Aaku... aku tidak tahu. Tapi, untuk apa juga dia berbohong tentang hal seperti itu padaku?"

"Karena Pak Dirga memiliki perasaan lebih padamu. Dia benci kau terus bersama Awan, makanya dia melakukan ini demi memisahkanmu dengan Awan," terka Ririn yang langsung dibantah oleh Tomi.

"Apa kau sudah gila, menuduh guru kita melakukan hal tak bermoral seperti itu? Pak Dirga itu orang yang berpendidikan, bagaimana mungkin dia melakukan hal rendahan seperti itu demi mendapatkan Hujan."

Sedikit banyaknya, Dirga yang entah sejak kapan menguping obrolan ketiga sahabat itu dari luar kelas, tampak tersindir dengan kalimat terakhir yang Tomi lontarkan untuk membelanya. Benar, Dirga adalah seorang guru, orang yang berpendidikan tinggi. Harusnya ia tidak boleh berbuat curang hanya demi mendapatkan cinta seorang gadis. Tapi hati Dirga yang sangat menginginkan Hujan untuk menjadi kekasihnya, membuat naluri Dirga terpenjara dalam ambisi besar yang menggelapkan matanya. Sebelum melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju ruang guru, Dirga lebih dulu mengirim sebuah pesan pada kakaknya.


©Rainsy™


From: Dirga
Jika memang hanya dengan melenyapkan Awan aku bisa memiliki Hujan, maka lakukanlah apa yang kau mau.

Arga yang tengah berada di dalam mobil van miliknya, tersenyum bengis menatap layar ponselnya yang masih menampilkan pesan dari Dirga. "Bagus. Sebenarnya... dengan atau tanpa persetujuanmu, Awan pasti akan mati di tanganku," ucapnya tersenyum menyeringai.

"Bos, kita sudah sampai. Menurut orang yang kau tugaskan untuk mengawasi Awan, gudang ini adalah tempat tinggal Awan di kota ini," tukas salah seorang pengawal Arga yang baru saja menggeser pintu mobil untuk mempersilakan atasannya turun.

"Good Job." Arga menepuk bahu pengawalnya dan menjadikannya sebagai pegangan untuk mempermudah Arga keluar dari mobil yang ditumpanginya. Sebelum memasuki bangunan yang terbengkalai itu, Arga lebih dulu memasukkan beberapa peluru ke dalam pistol yang ia sembunyikan di balik jas hitamnya.

"Awan, kau akan mati di tanganku hari ini juga." Dengan menggerakan satu tangannya, Arga mengintruksikan keempat orang yang ikut bersamanya untuk mengepung Awan pun langsung bergegas memasuki gudang, menggeledah setiap ruangan yang ada di sana untuk mencari keberadaan Awan.

Arga yang baru saja menapakkan kakinya di lantai dua gedung itu dibuat geram oleh laporan para anak buahnya, yang satu demi satu berdatangan hanya untuk memberi tahu bahwa tak ada satu pun dari mereka yang berhasil menemukan Awan. Arga memutar bola matanya sekali sebelum akhirnya turun tangan untuk ikut mencari Awan.

Langkah kaki Arga seketika terhenti setelah menemukan ada sebuah pintu di lantai dua yang terkunci. Merasa bahwa ruangan di balik pintu di hadapannya itu adalah tempat persembunyian Awan, ia pun meminta pada anak buahnya yang memiliki tubuh paling kekar untuk mendobrak pintu tersebut.

Ketika pintu berhasil terbuka, Arga yang menjadi orang yang pertama masuk, dibuat tercengang melihat isi dalam ruangan itu karena tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.

Tangan kanan Arga yang memegang sebuah pistol tampak mengerat, setelah ruangan yang dimasukinya ternyata hanyalah sebuah ruangan kosong. Tak ada satu pun benda mati yang menghuni ruangan itu. Padahal sore kemarin, ruangan itu masih dipenuhi banyak barang-barang milik Awan.

"Bagaimana ini, Bos? Apa jangan-jangan dia sudah mengetahui rencana Bos sehingga ia lebih dulu melarikan diri?"

Arga tersenyum miring. "Melarikan diri? Baiklah, kalau begitu lakukan rencana B. Dengan menjalankan rencana cadangan kita, aku yakin sekali Awan akan kembali. Meskipun ia telah melarikan diri sangat jauh dari tempat ini."

"Rencana B? Tapi, adik Bos pasti tidak akan suka jika rencana ini kita gunakan untuk memancing Awan."

"Jangan pedulikan adikku! Dia hanyalah salah satu boneka mainanku. Jadi, apa pun yang kulakukan pada dirinya, Dirga... tidak akan pernah bisa membenciku."

Di lain tempat, Bara yang tengah dalam perjalanan pulang setelah dipindahtugaskan oleh atasnya di kotanya sendiri, tampak sumringah mendengarkan musik rock di dalam mobil bersama seorang pria yang menjemputnya di Bandara.

"Dua hari libur. Wah... akan kau gunakan untuk apa waktu luangmu itu?" tanya pria bertopi yang tengah menyetir itu.

Bara menoleh, lalu mengulas senyumnya tipis. "Apa kau lupa? Aku ini memiliki seorang putra, tentu aku akan menghabiskan waktu liburku bersamanya. Aku dan Aldo akan melakukan banyak hal selama dua hari ini," timpal Bara yang tengah mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti dentuman musik yang ditangkap telinganya.

Melihat tingkah ayah satu anak di sampingnya, pria bertopi itu tersenyum geli. "Apa kau sedang dalam masa puber kedua? Kenapa tingkahmu seperti remaja belasan tahun begitu?"

"Heii... jangan mengejekku. Setidaknya biarkan aku menikmati energi positif dari musik rock yang kudengar ini." Bara kembali tersenyum lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. "Ahh... aku tak menyangka, atasanku bisa sebaik ini padaku. Memindahtugaskanku ke sini supaya aku juga bisa merawat putraku. Dia atasan yang sangat pengertian. Haruskah aku memberinya sebuah bingkisan atau mengundangnya makan malam sebagai tanda terima kasihku?"

"Itu... bukan ide yang buruk. Oh ya, tempat apa yang ingin kau kunjungi sebelum pulang ke rumah orangtuamu? Apakah perlu kita ke sekolah Aldo dulu, sekarang bukankah sudah waktunya anak sekolah pulang?"

"Tidak-tidak. Kau antar saja aku pulang ke rumah orangtuaku. Aldo belum tahu bahwa ayahnya akan pulang hari ini, hanya ibu yang kuberitahu. Aku ingin memberi kejutan pada Aldo saat ia sampai di rumah setelah dijemput oleh neneknya."

Pria yang entah sejak kapan beralih profesi menjadi supir itu mengangguk paham, lantas kembali hanya berkonsentrasi pada jalanan yang terhampar luas di depannya. Fokus pria bertopi itu menjadi pecah mana kala, Bara yang duduk di samping kirinya menerima panggilan telepon dari sang ibu. "Halo, ada apa, Bu? Sekarang? Ah, aku masih dalam perjalanan pulang, Bu. Memangnya kenapa? Apaa!!!" Mendengar Bara memekik kencang, pria bertopi itu refleks menghentikan mobil yang ia kemudikan secara mendadak.

"Ada apa? Apa yang terjadi, kenapa kau berteriak?" tanya supir muda itu ingin tahu.

"Bagaimana bisa, Ibu bilang putraku diculik?!"

"Apa! Diculik?" Sang supir terperanjat kaget.

Dari seberang telepon, Nyonya Bara menjelaskan bahwa saat ia sampai di sekolah untuk menjemput cucunya pulang, ia sudah tak menemukan Aldo di tempat biasa anak itu menunggunya datang menjemput. Saat Nyonya Bara menanyakan keberadaan cucunya pada satpam sekolah, satpam itu mengatakan bahwa Aldo beberapa menit yang lalu telah dijemput oleh seorang pria yang mengendarai motor balap. Dan Aldo yang melihatnya langsung ikut bersama pria berhelm yang dipanggilnya 'Kak Awan'. Nyonya Bara yang tahu bahwa Awan merupakan salah satu orang yang dekat dengan Hujan pun bergegas menemui adik ipar putranya di sekolah, dan menanyakan tentang nomor telepon Awan karena Nyonya Bara ingin meminta supaya Awan membawa Aldo pulang untuk menyambut kedatangan ayahnya. Namun belum sempat Hujan memberikan nomor telepon Awan, salah seorang guru di sekolah Hujan yang mengaku bernama Dirga, mendapat telepon dari Awan yang memberitahu bahwa ia tidak akan mengembalikan Aldo sebelum mereka menebusnya dengan uang 500 juta.

Diceritakan seperti itu oleh sang ibu dalam sambungan teleponnya, Bara refleks melirik ke arah pria bertopi yang menjadi supirnya.

"Ada apa?" tanya pria itu yang tampak canggung ditatap seperti itu oleh Bara.

"Tidak. Tidak apa-apa," balas Bara yang lantas berpesan pada ibunya untuk tenang. Dan jangan dulu menghubungi polisi sebelum ia tiba di rumah sebelum akhirnya Bara pun menutup sambungan telepon itu. "Dirga... bukankah Dirga Sasongko adalah nama teman dekatmu semasa SMP dulu?"

Pria bertopi itu mengangguk.

"Wan, apa kau punya masalah yang belum terselesaikan dengan Dirga?" tambah Bara kembali mengajukan pertanyaan pada pria bertopi yang ternyata adalah Awan Asvathama.

Awan mengerutkan dahinya tengah berpikir. "Masalah? Rasanya tidak. Memangnya kenapa Kak?"

"Sepertinya sekarang aku tahu, siapa orang yang menghasut Hujan untuk membencimu dan orang yang menculik putraku dengan berpura-pura menjadi dirimu."

Supranatural High School (16)

Diposting oleh Shin Ra In pada 17:37, 11-Agu-16

ThumbnailSupranatural High School Bagian 16 Hari Baru Di dalam sebuah kamar yang gelap, nyala ketiga belas lilin yang membentuk sebuah pentagram mulai kacau. Api kecil yang menerangi kamar itu bergerak tak beraturan seakan terkena tiupan angin besar, padahal tempat itu tidak memiliki ventilasi udara sama sekali. Suara geraman sesosok makhluk mengerikan yang masih menyesap kuat darah korban menggunakan gigi taringnya terdengar memenuhi seisi... [Baca selengkapnya]

Hujan di atas Awan #12

Diposting oleh Shin Ra In pada 16:40, 06-Agu-16

ThumbnailHujan di atas Awan Bab XII Deringan ponsel yang berada di atas laci ruang tengah, mengganggu aktivitas Dirga yang sedang sibuk mencuci piring di dapur. Setelah piring terakhir ia bilas bersih, Dirga bergegas menuju ruang tengah. Ekspresi wajah guru muda itu tampak serius kala melihat nama 'Awan' tersirat di layar ponselnya yang terus berdering. Dengan penuh rasa heran, Dirga akhirnya menerima panggilan... [Baca selengkapnya]

Handsome and The Beast #1

Diposting oleh Shin Ra In pada 00:22, 03-Agu-16

ThumbnailHandsome and The Beast Episode 1 : Hatred Warna hitam telah menyelimuti langit yang menaungi kota Seoul. Warna-warni dari lampu banyaknya gedung bertingkat yang memadati kota mulai menyala terang, bahkan terangnya melebihi cahaya dari bulan yang kala itu tertutup oleh gumpalan awan. Suara klakson berbagai macam kendaraan yang merambat pelan di jalanan besar mulai terdengar di sana-sini, menandakan betapa sibuknya aktivitas penduduk... [Baca selengkapnya]

Hujan di atas Awan #11

Diposting oleh Shin Ra In pada 07:51, 01-Agu-16

ThumbnailHujan di atas Awan Bab XI Air langit masih mengguyur tanah pekuburan kala jasad Luci dikebumikan. Payung-payung hitam pun masih ramai mengitari sebuah gundukan tanah merah dengan bunga yang bertaburan di atas pusaranya. Raut kesedihan tercetak jelas di wajah para pelayat yang berdatangan, mengiringi kepergian Luci menuju kedamaian. Keadaan masih sama seperti saat di rumah sakit beberapa waktu lalu. Dibanding Hujan yang merupakan... [Baca selengkapnya]

Supranatural High School (15)

Diposting oleh Shin Ra In pada 18:24, 29-Jul-16

ThumbnailSupranatural High School Bagian 15 Tak Terkendali Denting jam kuno yang menggaung menyebar ke setiap sudut bangunan putih bak kastil di tengah hutan, menjadi tanda berakhirnya pertemuan seluruh siswa dengan pengajar SHS di ruang aula. Setelah pintu kayu dengan aksen akar rambat di setiap sisinya dibuka oleh Dustin, semua murid SHS pun berhamburan keluar. Dari dalam aula, terdengar suara Sonita dan Chester yang... [Baca selengkapnya]